Minggu, 04 Mei 2008

Frankenstein





Sunday, May 04, 2008 22:57
By. Wesly

Frankenstein Monster dari Alam Mimpi

Sosok monster ini dihidupkan oleh Dr Victor Frankenstein. Seorang mahasiswa kedokteran yang melakukan eksperimen terlarang untuk membuktikan bahwa manusia bisa diciptakan dengan teknologi dan pemahaman mendalam akan ilmu kedokteran.

Semua berawal dari keingintahuan, rasa penasaran, dan antusiasme masa muda akan ilmu pengetahuan. Terkejut melihat eksperimen profesornya, ia pun tergerak untuk menyempurnakan. Dr Victor Frankenstein pun terobsesi pada upaya untuk menciptakan sosok manusia sempurna. Ia pun menggunakan organ otak profesornya (yang baru saja meninggal), mengumpulkan potongan tubuh dari sejumlah jenazah yang masih baru, menjahit potongan-potongan itu dalam satu tubuh, dan menciptakan sesosok makhluk yang diyakininya akan menjadi manusia sempurna hasil rekayasa eksperimennya.

Setelah mengurung diri selama berhari bahkan berminggu-minggu mengerjakan eksperimen itu, Victor terkejut ketika makhluk eksperimennya yang dibangkitkan dengan energi listrik dari petir dan belut listrik itu ternyata menjadi sesosok makhluk buruk rupa, ia tak menyangka bahwa ia baru saja menciptakan "sesosok Iblis!"

Monster ini kemudian dikenal sebagai "FRANKENSTEIN"… walaupun itu penyebutan yang salah. Monster itu sebenarnya tanpa nama, tidak pernah diberi nama oleh penciptanya, dan menjadi makhluk asing yang mencari jati dirinya! Ia sebenarnya tidak tahu mengapa ia ada dan untuk apa ia diciptakan. Dalam pencariannya itu sang monster justru ia menjadi teror menakutkan sejumlah orang, terutama bagi penciptanya sendiri: dr Victor Frankenstein!

Frankenstein, merupakan cerita yang mungkin sudah akrab bagi kita. Kisah yang pernah populer dalam bentuk novel dan film sejak pertama kali dipublikasikan dalam sebuah buku terbitan 1818. Novel yang menggemparkan dan laku keras dipasaran hingga abad 20. Sebuah kisah yang berbau sains fiksi, menyentuh aspek kebudayaan, dan mengguncang emosi dalam bentuk horor.

Begitu terkenalnya kisah tersebut, namun hanya sedikit yang tahu bahwa cerita berjudul "Frankenstein - The Modern Prometheus" karya Mary Shelley itu ternyata dilandasi pengalaman pribadi yang menyeramkan yang dipadu dengan studi literatur, imajinasi liar, dan impian seorang muda usia 19 tahun.

Dari Alam Mimpi

Kisah besar itu berawal dari pengalaman nyata Mary Wollstonecraft Godwin (Mari Shelley) pada suatu musim panas tahun 1816 di sebuah kastil di tepi Lake Geneva,
Swiss. Kastil itu adalah kediaman seorang penyair ternama Lord Byron. Kala itu Mary (masih 19 tahun) dan kekasihnya penyair Inggris Percy Shelley berkunjung ke sana atas undangan Lord Byron.

Malam itu cuaca buruk dengan hujan lebat, petir dan badai mengganas di luar tembok bangunan batu yang sudah tua. Ketiga seniman tulis itu berkumpul di dekat perapian. Mereka berbincang santai dalam temaran kehangatan dan nyala api yang meliuk-liuk.

Cuaca buruk membuat mereka jenuh, karena tak bisa beraktivitas di luar. Maka pada suatu malam, Byron menantang kedua tamunya untuk menulis sebuah cerita mencekam, masing-masing satu tulisan. Ketiganya pun sepakat dan memulai kegiatan menulis mereka di sana untuk mengisi waktu.

Pada suatu malam dengan badai yang masih menderu di luar sana, Mary yang sudah tertidur tiba-tiba terbangun akibat gangguan mimpi buruk. Ia kaget bukan kepalang manakala mendengar petir mendentum di luar sana. Keringat membanjir di tubuhnya. Mimpi buruk itu seolah nyata baginya, begitu hidup dan menakutkan.

Setelah bisa menguasai dirinya, Mary pun meraih kertas dan pena. Menjelang subuh hari itu ia jemarinya mulai menulis di bawah temaram lampu yang bersinar remang-remang. Ia menuliskan detail mimpinya itu dalam sebuah cerita.

Begini kira-kira sebagian kutipannya: "Saat merebahkan kepalaku di atas bantal, aku tak bisa tidur apalagi berpikir… Aku melihat sepasang mata, dengan tatapan yang pedih. Aku melihat seorang mahasiswa yang pucat sedang berlutut diam di samping sesuatu. Aku melihat sesosok bayangan seorang lelaki yang meregang didekatnya, lalu mesin besar di ruangan itu menunjukkan reaksi adanya tanda-tanda kehidupan, panel-panel yang bergerak sebagai penunjuk adanya sebuah reaksi dari sosok di samping mahasiswa itu. Sungguh menakutkan, sebuah kekuatan yang luar biasa sebagai akibat usaha keras seorang manusia untuk membentuk sesuatu cipataan yang menakjubkan di dunia!"

Dan Mary memenangkan pertaruhan di antara ketiganya. Karangan yang berasal dari mimpi buruknya itu pun kemudian ditulis dalam bentuk novel yang diterbitkan dua tahun kemudian. Dan melegenda sebagai kisah Frankenstein hingga ini hari!

Rabu, 23 Januari 2008

Love Thing



Hy kawan.. kenalkan ini gw.. Wesly Joe
Gw dilahirkan pas tanggal 16 November 1988
Lagu yang paling gw suka dari Joe adalah Love Thing.. sangat kreeeen abizz kawan.....! bisa terhanyut bila ngedengerin tuh lagu... bener.....
thanks men.....

Ngomong ngomong soal gitar, saya jadi ingat waktu pertama kali kenalan sama alat musik satu ini, tepatnya waktu SMP dulu, lagu pertama yang saya kuasai dalam bermain gitar adalah lagunya Dewa19 yang judulnya kangen, Petikan guitarnya andra yang membuat saya semakin jatuh hati dengan yang namanya gitar, akhirnya saat itu saya pun menjadikan andra sebagai idola saya, Walaupun Banyak gitaris top seperti totonk tewel , Ian antono maupun Pay siburian ketika itu , tapi saya tetap mengidolakan Andra , karena Andra lah yang memperkenalkan saya betapa indahnya bermain gitar.( thanks Andra)

Lebih masuk lagi kedalam dunia gitar, saya semakin bingung mana yag harus saya idolakan, mengingat banyaknya dewa gitar di dunia ini. Nama nama Joe satriani, Steve Vay, Edie Van Halen, Jimi Hendrix ataupun Eric Jhonson sangat membuat saya bingung, siapakah salah satu dari mereka yang saya akan jadikan pioner. Akhirnya saya mengerti.. Betapa musik memang harus berwarna.

Semakin masuk lebih dalam kedunia musik, saya akhirnya mengenal gitar solo Joe satriani, membuat saya berpindah kelain hati dalam mengidolakan gitar. Alunan melodynya, Seperti Love Thing, Always with me always with you, Starry Night, Until We Say Goodbye, Rubina dll telah menyatu dalam diri saya mebuat saya lebih menyukai musik rock & slow rock sebagai karakter musik saya. Dan mengidolakan Sang Gitaris Joe Satriani sebagai gitaris panutan saya.

Kini seiring bertambahnya usia cieee…Pandangan saya terhadap musik tidak lagi sebatas sebuah pencarian karakter, Tapi lebih kepada menjadikan Musik seperti sebuah irama kehidupan, dimana tidak akan bisa hanya dengan satu aliran musik, selalu berwarna , tapi tetap pada identitas diri.

Jadi walaupun terkadang saya sangat menikmati musik selain rock & slow rock , baik itu dangdut , jazz, ataupun R&B . tapi jiwa bermusik saya tetap pada rock , Seperti saat ini , saya jadi tak bisa tidur merindukan permainan gitar seorang pakar Joe Satriani.